“Ada bagian dari dirimu yang tidak pernah rusak, tidak pernah hilang, hanya tertidur menunggu untuk diingat kembali.”
“Setiap jiwa membawa talenta sebagai pesan rahasia dari Tuhan — misi kecil yang menyelamatkan dunia dengan caranya sendiri”
_Yohanes Kabes
Ketika kamu masih merupakan jiwa yang melayang-layang, masih menjadi bagian dari energi alam semesta, Tuhan telah menitipkan sebuah talenta yang identik dengan identitas jiwamu. Bahkan sebelum ia bersatu menjadi bagian dari tubuh fisikmu, kamu sudah utuh — jauh sebelum dunia mencoba mengkotak-kotakkanmu dalam identitas yang dibuat agar kamu mudah ditebak, mudah dikontrol, mudah disetir.
Jauh sebelum dunia mengenalmu dengan mata dan menilai permukaanmu melalui logika dangkal mereka, Tuhan telah lebih dulu melihatmu dengan kedalaman. Dunia membangun aturan demi menenangkan ego dan dahaga akan rasa superior — lewat tafsir yang dangkal mereka pelihara.
Orang-orang itu telah mencuri identitasmu sejak lama. Mereka menutupmu dengan berbagai lapisan agar kamu tak mampu melihat cahaya dalam dirimu sendiri. Mereka menutupi apa yang telanjang, memaksamu mengenakan topeng kepalsuan, dan menuntutmu mengenakan kulit yang bukan milikmu agar mereka tetap merasa aman dalam ilusi ego dan superioritas mereka.
Tetapi kamu tidak berada di sini untuk membawa rasa nyaman bagi mereka yang beracun.
You’re not here to comfort everyone with the mask they force you to wear.
Jauh sebelum kamu menyatu dalam rahim ibumu, alam semesta telah lebih dulu mengenalmu dan melengkapimu dengan sumber-sumber cahaya agar kamu terhubung dengan yang lebih tinggi. Namun manusia menutupinya dengan kebisingan dunia, membuatmu lupa menyelaraskan batin hingga sensor jiwamu tertidur.
Mereka menjatuhkanmu ke dalam berbagai peristiwa, mewariskan luka-luka batin turun-temurun yang membentuk cara berpikirmu, caramu bertindak, hingga akhirnya kamu menjadi seperti yang dunia inginkan — hidup dalam ketakutan, keraguan, dan ketidakseimbangan dalam setiap proses kehidupanmu.
Namun ingatlah, kamu tidak di sini untuk melayani rasa superior manusia yang haus validasi dan merasa sempurna dengan mengatur kebebasan jiwa orang lain demi menutupi ketelanjangan moral mereka sendiri.
Kamu tidak diciptakan untuk memuaskan ego manusia atau menjadi bagian dari sistem kontrol mereka.
Kamu, aku, dia, dan mereka adalah debu. Dan tidak ada satu debu pun yang berhak menentukan bagaimana atau ke mana debu lain melayang bebas.
Kamu di sini untuk meladeni talentamu, karena melalui talenta itulah misi jiwamu menunggu untuk direalisasikan.
Mungkin kamu pernah berkata, “Tapi di sini tidak ada tempat untukku dan talentaku berkembang,” atau “Mungkin ini bukan takdirku.”
Namun ketahuilah — sebuah misi besar selalu membutuhkan persiapan yang matang.
Kamu mungkin belum sadar bahwa segala keterlambatan, segala bentuk manusia yang mencoba menjatuhkan reputasimu, menarikmu ke bawah, mencuri identitasmu, melabelimu, bahkan meremehkanmu dengan memproyeksikan ketidakmampuan mereka padamu — semua itu adalah bagian dari proses persiapan.
Selidiki hatimu, jiwamu, batinmu.
Apakah kamu sudah siap sepenuhnya? Ataukah kamu masih membutuhkan waktu untuk belajar menghadapi hal-hal serupa di masa depan?
That’s how the universe builds and guides you.
Terlepas dari segala identitas duniawi yang mereka lekatkan padamu, kamu adalah pembawa cahaya — penebar energi positif melalui talentamu.
Terlepas dari segala penghakiman dunia yang bising, selama kamu menemukan misi jiwamu dan menyalurkannya lewat talenta yang Tuhan titipkan, kamu sedang berjalan di jalur yang benar.
Kamu sedang menaikkan vibrasi alam semesta, menebarkan energi ilahi melalui karya yang lahir dari kedalaman dirimu.
Bagaimanapun dunia menafsirkanmu melalui pandangan yang dangkal, menghakimi, merendahkanmu berdasarkan penilaian yang tidak disertai sensor batin, Tuhan memandangmu jauh lebih dalam dari itu.
Selama kamu tetap fokus pada talenta yang sejak awal menjadi identitas jiwamu, dan terus membawa misi itu ke dunia ini, kamu telah melakukan pekerjaan Tuhan dengan baik.
Kamu bahkan lebih melayani daripada mereka yang sibuk menambal kekosongan jiwa mereka sendiri.
Epilog: Cermin yang Tak Bisa Dielakkan
Dan jika tulisan ini sampai pada mereka yang bersembunyi di balik topeng ego, mungkin akan muncul rasa tidak nyaman — seperti cahaya yang tiba-tiba menembus ruang gelap yang telah lama mereka jaga.
Mereka mungkin menolak, menuduh, atau tertawa kecil untuk menutupi getaran yang diam-diam mengguncang dari dalam.
Namun tulisan ini tidak datang untuk menghakimi siapa pun. Ia hanya menjadi cermin, memantulkan sisi-sisi yang selama ini diabaikan, agar mereka tahu bahwa ketakutan, rasa haus akan kontrol, dan kebiasaan memenjarakan kebebasan orang lain hanyalah tanda bahwa mereka sendiri sedang kehilangan arah dalam dirinya.
Karena kebenaran yang disampaikan dengan kesadaran bukanlah pedang,
melainkan cahaya —
dan cahaya, walau menusuk, selalu datang untuk menyembuhkan.
Yohanes Kabes, S.S (B.A. in English Literature) is a Melanesian writer, novelist, and poet. His writings and articles focus on themes of spirituality and the inner journey of the human soul — the awakening of consciousness. He also analyzes literary works through psychological and spiritual perspectives, believing that life itself is the philosophy of the universe. In his novels, Kabes often explores the realms of horror, thriller, and mystery. He is also the first to design fashion pieces inspired by his own poetry.


