> “Mungkin kamu merasa tidak pantas.
> Kamu merasa harus terus mengejar validasi dan penerimaan dunia.
> Tetapi semakin kamu berlari, semakin ada bagian dari dirimu yang hilang.”
Kita hidup di masa di mana orang berlomba terlihat benar,
tapi lupa untuk benar-benar hidup.
Kita mencari pengakuan, seolah-olah cinta dan penerimaan orang lain bisa menambal kekosongan yang kita bawa sejak lama.
Namun semakin kita memaksakan diri untuk memenuhi standar dunia,
semakin kita kehilangan sesuatu yang paling penting — **diri sendiri.
Dunia yang Membuat Kita Lupa
Kita hidup di zaman di mana manusia semakin jauh dari sumber sejati kehidupannya —
dari energi semesta, dari suara Tuhan yang berbisik lembut di dalam hati.
Sejak kecil, kita diajarkan untuk menyesuaikan diri.
Kita belajar agar tidak terlalu berbeda, agar diterima, agar dianggap baik.
Tanpa sadar, kita memenuhi kebutuhan ego orang lain — menjadi seperti yang mereka mau agar dicintai, mematikan cahaya jiwa agar tak dianggap aneh.
Namun, satu hal yang jarang kita sadari:
> Sebelum dunia menempelkan label, **kita sudah sempurna.**
Dunia mencoba mengurung jiwamu dalam kotak moralitas sempit,
mengganti identitas sejatimu dengan versi yang nyaman bagi mereka.
Tapi jiwamu tahu kebenarannya: kamu tidak pernah rusak. Kamu hanya tertutup oleh suara-suara dari luar.
Saatnya Kembali ke Dalam
Semakin kita terlibat dalam kebisingan dunia,
semakin kita kehilangan ruang pribadi yang sebenarnya kita butuhkan: **ruang untuk sunyi.**
> Karena hanya dalam kesunyian, kita bisa mendengar Tuhan berbicara.
Kamu tidak perlu melawan dunia, cukup kembali ke dirimu sendiri.
Bertemanlah dengan sunyi.
Terimalah sisi terang dan gelapmu, kekuatan dan kelemahanmu, kesucian dan luka-lukamu.
Di sanalah kamu akan menemukan keseimbangan — dan dari keseimbangan itulah, lahir kedamaian sejati.
Kamu Sudah Sempurna Sejak Awal
Manusia bukan makhluk yang harus disempurnakan.
Manusia adalah **kesempurnaan yang sedang diingatkan kembali.**
> Kamu tidak diciptakan untuk terus membuktikan diri,
> tapi untuk menghidupi keajaiban yang sudah ada di dalam dirimu sejak semula.
Jangan biarkan dunia membuatmu lupa siapa dirimu sebenarnya.
Kamu adalah karya Tuhan yang luar biasa — tidak kurang, tidak lebih.
Cahaya itu tidak pernah padam; ia hanya menunggu kamu mengingatnya lagi.
Kini saatnya berhenti mencari nilai dari dunia luar,
dan mulai melihat dirimu sebagaimana Tuhan melihatmu:
sempurna, utuh, dan seluas semesta itu sendiri.
—
> Kamu bukan sesuatu yang harus diperbaiki.
> Kamu adalah sesuatu yang harus disadari kembali.”**
Yohanes Kabes, S.S (B.A. in English Literature) is a Melanesian writer, novelist, and poet. His writings and articles focus on themes of spirituality and the inner journey of the human soul — the awakening of consciousness. He also analyzes literary works through psychological and spiritual perspectives, believing that life itself is the philosophy of the universe. In his novels, Kabes often explores the realms of horror, thriller, and mystery. He is also the first to design fashion pieces inspired by his own poetry.
