Spiritual Narsistik dan Kecenderungan Menghakimi Orientasi Seksual Sesama Manusia

Kita hidup di zaman di mana orang bersembunyi di balik agama untuk memvalidasi egonya —
mengukur kesucian dari seberapa keras mereka menghakimi orang lain.

“Spiritual narsisisme adalah ketika seseorang menggunakan Tuhan untuk merasa lebih unggul, bukan untuk belajar menjadi rendah hati.”

Manusia sering kali menganggap bahwa Tuhan adalah soal aturan fisik — tentang hal-hal yang terlihat, bisa disentuh, dan diukur dengan logika dangkal manusia. Padahal, Tuhan yang mereka sembah sendiri tidak berwujud. Ia adalah energi agung yang mengatur keseimbangan semesta. Fenomena paling nyata dari kesalahpahaman ini tampak pada perilaku sebagian manusia beragama yang gemar menilai sesamanya hanya dari hal-hal yang tampak di permukaan. Mereka tidak menilai lewat kedalaman batin, tetapi lewat aturan-aturan fisik yang terbatas pada pandangan mata dan tafsir dangkal. Ironisnya, dalam kehidupan sehari-hari mereka justru sering melakukan hal-hal yang merusak nilai-nilai Ilahi di dalam diri mereka sendiri — karena kebutaan batin yang mereka pelihara.

Mereka kerap menganggap orientasi seksual yang berbeda sebagai sesuatu yang rendah dan hina. Padahal penilaian itu tidak lahir dari kesadaran spiritual, melainkan dari ego dan ketakutan yang berakar pada logika duniawi. Sementara itu, di sisi lain, mereka memperlakukan tubuh — terutama tubuh perempuan — sebagai objek pemuas nafsu semata. Seorang laki-laki yang melihat vagina hanya sebagai tempat pelampiasan seksual sejatinya telah menurunkan nilai sakral dari rahim — tempat awal kehidupan yang seharusnya dijaga kesuciannya. Namun, ketika perempuan tidak menyadari nilai spiritual rahimnya, ia pun mudah memberikannya sembarangan — bahkan kepada laki-laki yang tidak disiapkan Tuhan untuknya. Akibatnya, seks kehilangan makna suci dan hanya menjadi aktivitas fisik tanpa kesadaran jiwa.

Banyak orang melakukan hubungan seksual tanpa tujuan, tanpa arah spiritual, lalu berlindung di balik istilah “manusia biasa” untuk membenarkan tindakannya. Mereka sibuk menghakimi orang lain karena tak mampu menghadapi ketelanjangan moral diri sendiri. Dengan cara itu, mereka merasa lebih “suci” di mata dunia. Padahal, di mata Ilahi nilai diri mereka justru menurun.

Kita hidup di zaman di mana manusia lebih suka menutup diri dari cermin sambil menyerahkan cermin itu kepada orang lain. Mereka menilai kebenaran dari apa yang terlihat, tetapi lupa menilai dari kedalaman. Mereka mengukur kemuliaan berdasarkan validasi dunia, bukan kesadaran Ilahi. Lebih ironis lagi, mereka yang gemar menghakimi orientasi seksual orang lain sering kali justru memiliki pikiran yang terus dipenuhi hal-hal berbau seksualitas. Secara psikologis, seseorang yang terobsesi menilai orientasi seksual orang lain biasanya sedang berhadapan dengan masalah internal atau obsesi yang belum terselesaikan. Otak manusia memiliki ruang luas untuk kreativitas, visi, dan misi hidup. Namun, jika 90% ruang itu hanya diisi oleh pikiran tentang seks, maka sudut pandang orang itu terhadap dunia pun menjadi sesempit itu — ia menilai sesama hanya berdasarkan seksualitas.

Lucunya, banyak di antara mereka yang sebenarnya juga menyimpang dari nilai-nilai alat kelamin itu sendiri, tapi bersembunyi di balik topeng agama. Mereka menutupi kemunafikannya dengan menghakimi orang lain, mencari validasi dunia agar tampak benar di mata manusia — bukan di mata Ilahi. Tidak semua orang dengan orientasi seksual berbeda hidupnya berputar di sekitar seks. Ada banyak dari mereka yang berfokus pada kreativitas, misi hidup, dan upaya menyebarkan energi positif di dunia. Mereka turut memikirkan kesejahteraan sesama dan kesehatan mental manusia — sesuatu yang bahkan sering diabaikan oleh mereka yang merasa “normal”.

Jika Anda selalu menilai manusia lain hanya dari orientasi seksualnya, itu pertanda bahwa pikiran Anda sendiri terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang bersifat seksual. Anda mungkin sedang mencari validasi moral melalui agama, padahal cara Anda memandang tubuh dan seksualitas belum tentu sejalan dengan nilai Ilahi yang sesungguhnya: menciptakan kehidupan dan menumbuhkan kasih.

Tidak ada manusia yang dilahirkan dengan misi menjadi “insinyur seks” atau pengamat orientasi seksual orang lain. Secara Ilahi, setiap jiwa datang ke dunia dengan talenta dan panggilan masing-masing — untuk mengabdi pada cahaya yang ada di dalam dirinya, bukan pada ego yang haus validasi.

Tidak ada yang lebih mulia di antara kita. Anda, saya, dan siapa pun di dunia ini memiliki sisi gelap dan terang. Yang membedakan bukanlah orientasi seksual, tetapi bagaimana kita menjaga keseimbangan, mengendalikan diri, dan hidup dengan kesadaran Ilahi yang sejati. Kita tidak lebih mulia dari apa pun, bahkan Binatang pun melakukan hubungan sexual hanya di musim kawin dan tujuan mereka hanya satu yaitu beranak dan bertelur tanpa motivasi hawa napsu atau mengisi kebutuhan sexual semata setiap waktu, Binatang bahkan mampu menjaga keseimbangan ekosistemnya agar tidak membludak hingga pada akhirnya tidak ada tempat bagi makhluk hidup lain di muka bumi ini. Kalau kau menganggap seseorang sakit pun, mengapa mereka harus berpura-pura sembuh hanya untuk mendapatkan validasi dan pengakuan anda kemudian berdiri di jajaran kemunafikan dan mengenakan topeng masuk barisan bersama anda?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *